Catatan kecil ini terlalu pribadi, bukan terkait kepentingan orang banyak. Apalagi warganet dan sidang pembaca. Tapi pernahkah Kau merasa kehilangan, ditinggalkan orang tercinta? Ditinggal bapak, nenek, opa dan om? Pernah ditinggal anggota keluarga untuk selamanya?
Ya, catatan ringan ini adalah tentang itu. Tentang sebuah refleksi, kepedihan, kenangan, dan kerelaan.
"Ada apa ya?"
Begitu pikirku, Rabu sore, 21 Maret 2018, pukul 15.30 WP, saat telepon selulerku berbunyi.
Ketika itu, Aku masih mengetik, membaca, dan mengedit sebuah tulisan pada layar komputer.
Sebagaimana biasanya, saban hari, itulah rutinitasku, hingga tak memperhatikan tubuh ranum ini. Urakan, dan....
"Bapa Domi meninggal," kata Kakak Sepupuku, Leonardus di ujung telepon.
Aku kaget setengah mati. Hati luluh lantak berantakan. Mau protes pada kenyataan.
Aku lalu menghubungi keluarga melalui ponsel.
"Keti celi," kata Adik Sepupuku, Tarsisius.
Dalam bahasa Manggarai keti celi artinya pembuluh darah terputus. Ada juga ungkapan lain: weong nai. Ungkapan ini menggambarkan kekecewaan dan rasa kehilangan yang mendalam.
"Nia nene daku ge?" Ungkap ponakanku, Dedoz, dari Surabaya, Jawa Timur.
Adik kandungku Marselina menangis histeris di ujung telepon. Ia tak sudi melepaskan Bapak sulung, yang sudah lama tak dijumpainya.
"Saya sudah tidak ketemu dia empat tahun," kata Marselina diiringi isak tangis.
Aku juga tak memperhatikan mataku yang sembab. Menangis adalah bahasa yang sederhana untuk mengekspresikan kenyataan. Kenyataan yang hilang.
"Papa Imo, kalian sudah tahu?" Kata Kakak Adi di ujung telepon, sore menjelang malam.
"Kaka, saya sudah dapat kabar tadi," jawabku dengan suara yang perlahan menghilang.
"Bapa Kami berdelapan, mama, cucu-cucumu, dan keluarga tak mampu membalas semua jasa-jasa dan pengorbananmu. Kami hanya mampu mengucapkan "terima kasih" atas teladan hidup yang engkau tunjukkan bagi kami.
Doa kami mengiringi langkahmu menuju rumah Bapa di Surga. Doakanlah kami semua yang masih berziarah di dunia ini.
Sekali lagi "terima kasih" bapa
Salam hormat dan selamat jalan
Beristirahatlah dalam damai Tuhan."
Tulis adik sepupuku, Fr. Iwantinus pada laman facebook-nya. Frater Iwan adalah anak ketujuh dari delapan anak Bapa Domi. Ia masih mengenyam pendidikan dan menjalani panggilan menjadi imam Serikat Sabda Allah, di Seminari Tinggi Santu Paulus Ledalero, Maumere, Flores.
Bapa Tua Dominikus Jelahu meninggal dalam usia lebih dari 75 tahun. Ia meninggalkan delapan anak, cucu dan cecet, lantaran penyakit yang dideritanya.
Beberapa waktu lalu ia mengidap penyakit, katanya, gagal ginjal. Tapi saat liburan, Desember 2017 sampai Januari 2018, ia masih sehat meski sering terbaring lemah.
Almarhum Bapa Domi adalah anak sulung dari lima bersaudara dan bapakku anak bungsu.
Usianya memang sudah uzur. Tapi sebenarnya masih terlalu cepat untuk pergi.
"Oe bukan 73 tahun, yang pasti di atas 75 tahun," kata Enu Flora, saudari sepupuku melalui pesan singkat.
Usianya memang jadi perdebatan, sebab almarhum lahir sebelum Indonesia merdeka, tahun 1945.
Lumrah di kampung, bahwa orang-orang tua lupa atau tidak tahu tanggal dan tahun kelahirannya. Begitu pula dengan almarhum. Jadi, tahun kelahirannya diperdebatkan. Tapi yang pasti ia meninggal di usia lebih dari 75 tahun.
"Nana, kirim koe obat emam," katanya suatu waktu di ujung telepon saat masih bugar.
Aku terdiam. Kami sudah besar, sudah bisa cari makan, tapi belum bisa membalas jasa beliau. Belum bisa memperhitungkan jarak antara langit dan bumi.
Aku belum memberikan apa-apa kepada Bapa Tua ini. Belum bisa memberikan apa yang menjadi permintaannya. Obat.
Obat, bermakna lebih dalam dari sekadar sebuah pil, atau ramuan penyembuh rasa sakit.
Masih segar dalam ingatanku, saat matahari meninggi setelah pagi, 10 Januari 2018, sewaktu Aku berpamitan ke Papua. Kupeluk dia erat-erat. Dia yang lemah dan rapuh karena uzur kurangkul erat dan hangat.
Tak kusangka itu adalah pelukan terakhir, perpisahan, dan untuk selama-lamanya. Ah, Tuhan.
Kami 'kan mengenangmu bapa yang bijaksana, mengayomi dan rajin dan lemah lembut. Bapa yang waktu kecil menggendong, menuntun, dan mengajak kami ke kebun, hingga bagaimana menggembalakan kerbau dan kuda.
Tulisan ini bukanlah apa-apa. Tetapi melalui coretan sederhana ini, Aku mengobati kerinduan dan kepedihan lantaran jenazahmu tak bisa kujamah. Nun jauh di Kampung Lentang, Kecamatan Lelak, Manggarai, Flores.
Ini adalah coretan tentang sebuah kehilangan, kerelaan atau keikhlasan pada sebuah perjalanan "pulang".
Setelah lebih dari tujuh puluh lima tahun berziarah di dunia, kini ia menghadap Sang Khalik. Pengembaraannya berakhir dan pulang pada pemilik kehidupan.
Mungkin saja saat-saat terakhirnya ia mencari kami yang hilang, tapi kami nun jauh di perantauan. Hanya doa dan harapan yang kami punya.
"Eli, Eli, lama sabakhtani. Allah-Ku, Ya Allah-Ku mengapa Engkau meninggalkan Aku?"
Demikian jeritan Yesus saat menghadapi sakrat maut di salib.
Bapa, engkau kan berjumpa Yesus Kristus yang sengsara dan wafat-Nya kami kenang dalam masa prapaskah ini.
Requescat In Pace (RIP), Bapa Tua. Semoga beristirahat dalam damai. Doa kami bersamamu.
Sekiranya engkau bersama para kudus di surga, dan menjadi pendoa bagi kami sekeluarga. Titip salam untuk Bunda Maria, Tuhan Yesus, Allah Tritunggal Mahakudus--pemilik kehidupan, dan para kudus-Nya di surga. (*)
Jayapura, 21 Maret 2018